Abu Hamid Ahmad ibnu Khadhruya al-Balkhi. Adalah seorang warga terhormat Kota Balkh. Istrinya adalah seorang wanita solikhah, putrid dari Gubernur Kota Balkh. Ahmad kerap dihubungkan dengan Hatim al-Asamm dan Abu Yazid al-Bisthami. Ia meninggal dunia di Nisyabur pada tahun 240 H / 864 M dalam usia 95 tahun. Ia memiliki seribu orang murid. Setiap muridnya mampu berjalan diatas permukaan air dan terbang di udara. Ahmad mengenakan pakaian serdadu. Fatimah, istrinya, termasuk salah seorang wali sufi. Ia adalah putri dari Pangeran Balkh. Setelah bertobat, ia mengirim utusan untuk menemui Ahmad. “Mintalah aku dari ayahku.” Ahmad tidak menanggapi, maka Fatimah pun mengirim utusan untuk kedua kalinya. “Ahmad, tadinya aku piker engkau lebih dari ini, jadilah pemandu jalan, jangan jadi penyamun.” Ahmad pun kemudian mengirim seorang utusan untuk menemui ayah Fatimah untuk meminangnya. Ayah Fatimah, demi mencari berkah Allah, menyerahkan Fatimah kepada Ahmad. Fatimah pun memberikan salam perpisahan kepada keduaniawian dan menemukan kediaman yang tenang dalam kesunyian dengan Ahmad. Hari-haripun berlalu. Suatu hari Ahmad berniat pergi mengunjungi Abu Yazid, Fatimah menyertainya. Saat mereka memasuki kediaman Abu Yazid, Fatimah melepaskan hijabnya dan berbincang-bincang dengan Abu Yazid. Ahmad terkejut melihat hal ini, hatinya diliputi oleh api cemburu. “Fatimah apa yang engkau lakukan bersama Abu Yazid,” pekiknya. “Engkau akrab dengan diri lahirku, sedangkan Abu Yazid akrab dengan diri batinku. Engkau membangkitkan hasratku, sedangkan ia membawaku kepada Allah,” jawab Fatimah. “Buktinya ia dapat kutinggalkan kapanpun engkau membutuhkan aku.” Abu Yazid bercengkrama dengan Fatimah, hingga suatu kesempatan matanya memandang tangan Fatimah dan melihat kedua tangan Fatimah itu di warnai dengan pacar. “Fatimah mengapa engkau memakai pacar?” Tanya Abu Yazid. “Abu Yazid sebelum ini engkau tidak pernah memandang tanganku dan melihat pacar yang aku pakai,” jawab Fatimah. “Sebelum ini aku merasa tentrem bersamamu. Namun kini setelah matamu memandang tanganku, terlarang bagiku untuk menemanimu.” :Aku telah memohon kepada Allah,” ujar Abu Yazid, “Agar Dia menjadikan wanita layaknya sebuah dinding dalam pandanganku. Dan begitulah Dia menampakkan wanita dalam pandanganku, seperti sebuah dinding.” Kemudian Ahmad dan Fatimah melanjutkan perjalanan ke Nisyabur, dimana mereka disambut dengan hangat, saat Yahya ibnu Mu’adz Radhi tiba di Nisyabur dalam perjalanannya menuju Balkh. Ahmad ingin membuat pesta untuk Yahya, ia membicarakan itu dengan Fatimah. “Apa yang kita butuhkan untuk pesta ini?” Tanya Ahmad. “Banyak lembu dan domba,” jawab Fatimah. “Juga segala pernik-pernik perhiasan, seperti lilin dan minyak mawar, selain kita juga butuh sejumlah keledai.” “Untuk apa daging keledai itu?” Tanya Ahmad. Fatimah menjelaskan, “Saat seorang yang mulya datang untuk makan, anjing-anjing yang ada disekitar juga harus mendapat bagian dari pestanya.” Begitulah jiwa kasatria yang dimiliki Fatimah. Sebagaimana dinyatakan oleh Abu Yazid, “Jika seseorang ingin melihat lelaki sejati bersembunyi dalam pakaian wanita, suruh ia melihat Fatimah.” Ahmad mengisahkan riwayat berikut ini: Untuk waktu yang lama, aku telah menekan jiwa badaniahku. Kemudian pada suatu hari, sekelompok besar orang bersiap untuk pergi berjihat. Di dalam diriku, timbul hasrat besar untuk mengikuti mereka. Jiwaku mengantarkanku akan sejumlah hadis yang berbicara mengenai imbalan di surga bagi mereka yang berjuang di jalan Allah. “Aku begitu takjub, tak biasa-biasanya jiwaku sangat berhasrat untuk patuh,” ujarku. “Mungkin ini karena aku selalu membuat jiwaku berpuasa. Jiwaku tidak dapat menahan lapar lebih lama lagi, dan ingin berbuka puasa.” “Aku akan ikut mereka berjihad, tapi aku tidak akan berbuka puasa dalam perjalanan.” “Aku setuju,” jawab jiwaku. Mungkin jiwaku berkata begitu karena aku selalu memerintahkannya untuk shalat malam. Ia ingin di perjalanan agar dapat tidur di malam hari dan beristirahat,” pikirku. Maka aku pun berkata, “Aku akan tetap membuatmu terjaga hingga fajar.” “Aku setuju,” jawab Jiwaku. Aku tambah takjub. Kemudian terlintas dipikiranku, mungkin jiwaku berkata demikian karena ia ingin berbaur dengan orang banyak, ia telah letih berada dalam kesunyian, dan berharap mendapat pelipur lara dalam rombongan banyak orang. Maka aku pun berkata, “Kemanapun aku membawamu, aku akan menaruhmu di tempat yang terpisah, dan aku tidak akan duduk berkumpul dengan orang-orang lain.” “Aku setuju,” jawab jiwaku. Aku pun terdiam, lalu memohon kepada Allah, Agar Dia menyingkapkan kepadaku segala tipu daya jiwaku atau membujat jiwaku mengaku. Akhirnya, jiwaku bicara, “Setiap hari engkau membunuhku seratus kali, dengan menantang hasrat-hasratku, dan tak ada seorang pun yang tahu. Di dalam perang, setidaknya aku dapat terbunuh sekali untuk selamanya, dan akan mendapatkan kebebasan, dan beritanya akan tersebar ke seantero dunia. Ahmad ibnu Khadhruya benar-benar hebat! Mereka membunuhnya, dan ia meraih mahkota syahid.” Kontan aku memekik, “Maha Mulia Allah, yang menciptakan sebuah jiwa dengan watak munafik ketika gidup, dan tetap munafik setelah mati. Jiwa seperti itu tidak akan pernah menjadi muslim sejati, baik didunia ini maupun di akherat kelak. Aku piker engkau ingin mematuhi Allah, ternyata tanpa kusadari, engkau tengah mencoba untuk memakai korset.” Sejak saat itu aku menggandakan usahaku dalam menaklukkan jiwaku. Ada seorang pencuri membobol rumah Ahmad, ia mencari kesana-kemari, namun tidak menemukan apa-apa. Saat ia hendak pergi meninggalkan rumah Ahmad, Ahmad memanggilnya, “Wahai anak muda, ambillah ember itu dan ciduklah air dari dalam sumur, berwuduklah, dan dirikanlah shalat. Jika aku mendapat sesuatu, aku akan memberikannya padamu, agar engkau tidak meninggalkan rumahku ini dengan tangan kosong.” Si pencuri itu melakukan apa yang diperintahkan Ahmad. Ketika hari telah terang, seorang lelaki terhormat datang dan memberikan uang seratur dinar kepada Ahmad. “Ambillah uang ini sebagai imbalan bagi malammu yang engkau lewatkan dengan shalat,” kata Ahmad kepada si pencuri. Si pencuri kontan gemetaran seluruh tubuhnya, ia larut dalam tangis. “Aku telah salah jalan,” pekiknya. “Baru semalam aku bekerja untuk Allah, dan Dia telah membalasku demikian besar.” Pencuri itu pun bertobat, kembali kepada Allah. Ia menolak uang dinar yang diberikan oleh Ahmad, dan kemudian menjadi salah seorang mujrid Ahmad. Pada suatu kesempatan, Ahmad pergi ke sebuah pondok sufi dengan mengenakan yang sangat buruk. Dalam cara sufi, Ahmad mengabdikan diri sepebuhnya untuk melakukan tugas-tugas spiritual. Namun para sufi lain di pondok itu diam-diam meragukan ketulusannya. “Tempatnya bukan disini,” kata mereka kepada Syekh mereka. Kemudian pada suatu hari Ahmad pergi ke sumur dan embernya jatuh ke dalam sumur itu, para sufi lain mencela dan memakinya. Ahmad pun menemui sang syekh. “Aku mohon, bacalah surah Al-Fatihah, agar ember dapat terangkat dari dalam sumur,” pinta Ahmad. “Permohonan macam apa ini?” tukas sang syekh terheran-heran. “Jika anda tidak berkenan membacanya,” kata Ahmad, “Maka izinkanlah aku untuk membacanya.” Sang syekh mengizinkan, dan Ahmad pun membaca surah Al-Fatihah. Ember itu tiba-tiba terangkat ke permukaan. Ketika sang syekh melihat hal itu ia melepaskan serbannya. “Anak muda siapa sebenarnya engkau? Lesungku hanya berisi sekam bila dibandingkan dengan bulir padimu,” Tanya sang syekh. Ahmad menjawab, beri tahu para sahabatmu, janganlah terlalu memandang rendah para musafir.” Suatu hari datang seorang lelaki datang menemui Ahmad dan berkata, “Aku sakit dan miskin, bimbinglah aku ke jalan yang dapat menghantarkanku keluar dari cobaan ini.” “Tulislah jenis-jenis pekerjaan yang ada masing-masing pada secarik kertas,” jawab Ahmad. “Taruh potongan-potongan kertas itu dalam sebuah kantung, dan berikan padaku.” Lelaki itu pun menuliskan semua jenis pekerjaan dan membawa semua potongan-potongan kertas itu kepada Ahmad. Ahmad memasukkan tangannya ke kantong itu dan mengambil secarik kertas. Di kertas itu tertulis pencuri. “Engkau harus menjadi pencuri,” kata Ahmad kepada lelaki itu. Lelaki itu terkejut bukan main, dan terheran-heran mendengar ucapan Ahmad. Kemudian ia bangkit dan pergi menemui sekawanan penyamun. “Aku memimpikan pekerjaan ini,” katanya kepada mereka, “Bagaimana aku melakukannya?” “Hanya ada satu aturan dalam pekerjaan ini,” kata mereka kepadanya. “Engkau harus melakukan apapun yang kami perintahkan. “Aku akan melakukan apapun yang kalian perintahkan,” katanya meyakinkan mereka. Lelaki itu tinggal bersama para penyamun selama beberapa hari. Lalu suatu hari, sebuah kafilah melintas. Para penyamun itu mencegatnya. Mereka menyerahkan salah seorang anggota kafilah itu, seorang saudagar yang kaya raya, kepada anggota baru. “Gorok lehernya,” perintah mereka. Lelaki itu ragu, ia berkata dalam hati, “Raja penyamun ini telah membunuh banyak orang , lebih baik aku membunuhnya daripada aku membunuh saudagar itu.” “Jika engkau menginginkan pekerjaan ini, engkau harus melakukan semua yang kami perintahkan,” tukas sang pemimpin penyamun, “Kalau tidak, engkau harus pergi dan mencari pekerjaan lain.” Lelaki itu berkata, “Ya, aku memang harus menjalankan perintah, tapi perintah Allah, bukan perintah kalian!” Kemudian ia menghunus pedangnya, membiarkan saudagar itu pergi, dan menebas kepala sang raja penyamun. Melihat jedian itu, para penyamun yang lain melarikan diri. Barang-baranaga milik kafilah itu tetap utuh, dan jiwa si saudagar tadi selamat. Ia memberikan banyak emas dan perak kepada lelaki itu agar bisa hidup mandiri. Suatu hari seorang Darwis bertamu kerumah Ahmad dan diterima dengan hangat. Ahmad menyalakan tujuh puluh buah lilin. “Ini tidak menyenangkanku,” kata si darwis, “sibuk dengan hal-hal remeh tidak ada kaitannya dengan sufisme.” “Kalau begitu pergilah,” kata Ahmad, “Dan padamkan setiap lilin yang aku padamkan bukan karena Allah.” Sepanjang malam si darwis menyiramkan air dan menaburkan tanah, namun tidak satu lilin pun yang berhasil ia padamkan. “Mengapa engkau begitu terkejut?” kata Ahmad pada darwis itu keesokan harinya. “Ikutlah denganku, dan engkau akan melihat hal-hal yang memang patut membuat takjub.” Mereka pun pergi dan di depan pintu sebuah gereja. Saat para pendeta Kristen melihat Ahmad bersama temannya, kepala gereja mengundang mereka untuk masuk. Ia menyajikan makanan di meja dan mempersilahkan Ahmad untuk makan. “Para sahabat tidak makan bersama para musuh,” ujar Ahmad dengan hormat. “Tawarkan Islam pada kami,” kata sang kepala Gereja. Maka Ahmad menawarkan Islam kepada mereka. Tujuh puluh para pendeta akhirnya memeluk Islam. Malam itu Ahmad bermimpi, dalam mimpinya itu, ia mendengar sebuah suara: Ahmad engkau menyalakan tujuh puluh lilin untukku, kini aku telah menyalakan untukmu tujuh puluh hati dengan cahaya Iman. |
Selasa, 1 Mei 2012
70 Hati dengan cahaya keimanan
بسم الله الرحمن الرحيم
ABOUT HABIB UMAR BIN HAFIZ
بسم الله الرحمن الرحيم
Habib Umar bin Hafiz is the Director of Dar Al Mustafa, a seminary in Tarim, Yemen which is regarded as one of the foremost contemporary centres of Islamic education in the world. Habib Umar bin Hafiz is well known for his Prophetic lineage and status as one of the most important scholars alive today. His scholarship and preaching is highly regarded by Muslim communities from Indonesia to East Africa to Muslim communities in Europe and North America. Habib Umar also exerts global influence through his leadership of the Ba’Alawi spiritual and social movement with its roots in Yemen’s Hadhramaut valley. Habib Umar was ranked 33rd in this year’s list of the 500 Most Influential Muslims published by an international group of experts lead under the auspices of the Royal Institute for Strategic Studies in Amman, Jordan.
Habib Umar founded and runs Dar al Mustafa, a center for traditional Islamic scholarship that currently hosts an array of international students. The work of the seminary was featured in a major New York Times profilein 2009. He has joined the ranks of the world’s leading Muslim academics and scholars as a signatory of ‘A Common Word Between Us and You’, a document that builds bridges between Muslims and Christians. He recently spoke at Cambridge University on the need to continue such dialogues.
Habib Umar is noted for his outreach and education efforts and over the past year has made significant visits to South East Asia, Australia, Spain, Morocco and now the United State and Canada.
In July 2008, Habib Umar partnered with Muslim Aid Australia as founder of Yemen-based NGO Al Rafah Charitable Society to address issues of poverty and hunger and lack of sufficient health care in rural Yemen, particularly the Hadhramaut region. In December he convened a groundbreaking meeting of Arabic-speaking ulama from Yemen and the region to address the rise of theological extremism, calling on influential scholars to return to and promote theological moderation which characterizes the Yemeni tradition.
HIMPUNAN RAKAMAN : REHLAH DA`WAH GURU MULIA DI MALAYSIA 2012M
بسم الله الرحمن الرحيم
http://pondokhabib.wordpress.com/2012/04/27/himpunan-rakaman-rehlah-dawah-guru-mulia-di-malaysia-2012m/
SubhanALLAH wal HamduliLlah,
Berikut himpunan beberapa rakaman Rehlah Da`wah bersama Guru Mulia
al-Musnid al-`Allamah al-`Arif BiLlah al-Habib `Umar ibn Hafiz حفظه الله تعالى
di bumi bertuah Malaysia, oleh Saudara-saudara fiLlah kita yang bertuah pula
bisa hadir dan merakamkan detik-detik terindah dalam kehidupan mereka,
hingga kita yang melihat dan mendengarnya turut mendapatkan keberkahannya,
rahasianya, cahayanya, manfaatnya, wahai Pencipta segala sesatu,
wahai Pemilik segala sesuatu, wahai Penguasa segala sesuatu,
wahai yang PadaNYA kembali segala sesuatu, wahai ALLAH…♥
Berikut himpunan beberapa rakaman Rehlah Da`wah bersama Guru Mulia
al-Musnid al-`Allamah al-`Arif BiLlah al-Habib `Umar ibn Hafiz حفظه الله تعالى
di bumi bertuah Malaysia, oleh Saudara-saudara fiLlah kita yang bertuah pula
bisa hadir dan merakamkan detik-detik terindah dalam kehidupan mereka,
hingga kita yang melihat dan mendengarnya turut mendapatkan keberkahannya,
rahasianya, cahayanya, manfaatnya, wahai Pencipta segala sesatu,
wahai Pemilik segala sesuatu, wahai Penguasa segala sesuatu,
wahai yang PadaNYA kembali segala sesuatu, wahai ALLAH…♥
sumber:► Selasa, 17hb April 2012M
Di Subang Jaya Bhg1 - http://www.youtube.com/watch?v=_4JZur7l6No
Bhg2 - http://www.youtube.com/watch?v=Vc2TlXiZaNU
Bhg3 - http://www.youtube.com/watch?v=zQN8kvQOFNk
Bhg4 - http://www.youtube.com/watch?v=YkW-9sKUL4s
Terjemahan oleh : Guru Mulia Habib `Ali Zainal `Abidin al-Hamid► Rabu, 18hb April 2012M
Di Melaka Bhg1 - http://www.ustream.tv/recorded/21939879
Bhg2 - http://www.ustream.tv/recorded/21940698
Terjemahan oleh : Guru Mulia Habib `Ali Zainal `Abidin al-Hamid► Khamis, 19hb April 2012M
Di JB Kuliah Subuh Pertama - http://www.youtube.com/watch?v=_27UUKorT-I
Majlis Haul - http://www.youtube.com/watch?v=icp4enrpBAM
Versi lain - http://vimeo.com/40925066
Terjemahan oleh : Guru Mulia Habib `Ali Zainal `Abidin al-Hamid► Jum`at, 20hb April 2012M
Di JB Bhg1 - http://www.ustream.tv/recorded/21985437
Bhg 2 - http://www.ustream.tv/recorded/21986231
Versi lain - http://vimeo.com/40946664
Terjemahan oleh : Guru Mulia Habib `Ali Zainal `Abidin al-Hamid► Sabtu, 21hb April 2012M
Di KL Bhg1 - http://www.ustream.tv/recorded/22011206
Bhg2 - http://www.ustream.tv/recorded/22011739
Versi lain - http://www.youtube.com/watch?v=LcbVHAZ8Gqw
Terjemahan oleh : Guru Mulia Habib `Ali Zainal `Abidin al-Hamid► Ahad, 22hb April 2012M
Di N9 Taushiyah - http://www.youtube.com/watch?v=hojPYlIIcr4
Ziarah & Silaturahim - http://www.youtube.com/watch?v=jkcI3irT0U0
Terjemahan oleh : TG Syeikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari al-Makki► Selasa, 24hb April 2012M
Di Kedah Bhg1 - http://www.ustream.tv/recorded/22091870
Bhg2 - http://www.ustream.tv/recorded/22092776
Terjemahan oleh : Guru Mulia Habib `Ali Zainal `Abidin al-Hamid حفظهم الله تعالى
http://pondokhabib.wordpress.com/2012/04/27/himpunan-rakaman-rehlah-dawah-guru-mulia-di-malaysia-2012m/
Isnin, 23 April 2012
5 Senjata syaitan pada wanita
بسم الله الرحمن الرحيم
1- Air Mata dan tangisan wanita.
2- Senyuman wanita.
3- Tutur kata wanita.
4- Perhiasan pada tubuh wanita.
5- Kecerdikan wanita.
Lima perkara di atas jika laksanakan oleh wanita solehah untuk kepentingan Allah SWT pasti mendapat pahala yang amat berharga tetapi jika lima perkara di atas dilaksanakan oleh perempuan yang menjadi kuda tunggangan syaitan pasti berlaku kerosakan dunia ini sebagaimana larangan Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah, ayat : 11.
" Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]". mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."
[24] kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
Nota :
Makalah yang lebih lengkap sila layari
Bahaya Lisan
بسم الله الرحمن الرحيم
Ketahuilah bahawa bahaya lisan (lidah) itu besar sekali, dan manusia tidak akan selamat dari bahya ini, melainkan dengan bertutur kata yang baik saja.
Nabi s.a.w. telah bersabda:
“Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus pula hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus pula lidahnya. Dan seorang hamba tidak akan memasuki syurga, selagi tetangganya belum aman dari kejahatannya.”
Berkata Mu’az bin Jabal kepada Rasulullah s.a.w.: Apakah kita akan dihisab juga atas apa yang kita katakan, wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Wahai Mu’az! Tidakkah engkau ketahui bahawa manusia itu akan ditelengkupkan menerusi hidung-hidung mereka disebabkan hasil tuaian lidah-lidah mereka.
Ibu Mas’ud (Abdullah bin Mas’ud) r.a. pernah berkata: Wahai lidah! Sebutkanlah yang baik-baik, nescaya engkau akan dapat faedah. Dan berdiamlah dari berkata buruk, nescaya engkau terselamat sebelum engkau menyesal.
Sabda Rasulullah s.a.w.:
“Barangsiapa yang memelihara lidahnya, Allah akan menutup kecelaannya. Barangsiapa yang menahan kemarahannya, Allah akan melindunginya dari siksaNya. Dan barangsiapa yang menyatakan keuzurannya kepada Allah, Allah akan menerima uzurnya”.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka berkatalah yang baik ataupun berdiam saja”
Sabdanya lagi:
“Jagalah lidahmu kecuali bila berkata yang baik. Dengan berlaku demikian engkau akan mengalahkan syaitan.”
Hadith 40: 4 – Ketentuan dari Allah terhadap nasib hambaNya
بسم الله الرحمن الرحيم
Hadith ini adalah hadith keempat(04) dalam kitab Hadith 40 karangan Imam Nawawi. Hadith ini berkisar mengenai ketentuan yang Allah telah tetapkan nasib hambaNya semasa masih di dalam rahim Ibu.
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا . [رواه البخاري ومسلم]
Terjemah Hadith
Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah s.a.w. menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setitis mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setitis darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya roh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya diantara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga maka masuklah dia ke dalam syurga. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Pelajaran yang terdapat dalam hadith 40:04 - Ketentuan dari Allah terhadap nasib hambaNya
1. Allah ta’ala mengetahui tentang keadaan makhluknya sebelum mereka diciptakan dan apa yang akan mereka alami, termasuk masalah kebahagiaan dan kecelakaan.
2. Tidak mungkin bagi manusia di dunia ini untuk memutuskan bahwa dirinya masuk syurga atau neraka, akan tetapi amal perbutan merupakan sebab untuk memasuki keduanya.
3. Amal perbuatan dinilai di akhirnya. Maka hendaklah manusia tidak terpedaya dengan kondisinya saat ini, justru harus selalu mohon kepada Allah agar diberi keteguhan dan akhir yang baik (husnul khotimah).
4. Disunnahkan bersumpah untuk mendatangkan kemantapan sebuah perkara dalam jiwa.
5. Tenang dalam masalah rizki dan qanaah (menerima) dengan mengambil sebab-sebab serta tidak terlalu mengejar-ngejarnya dan mencurahkan hatinya karenanya.
6. Kehidupan ada di tangan Allah. Seseorang tidak akan mati kecuali dia telah menyempurnakan umurnya.
7. Sebagian ulama dan orang bijak berkata bahwa dijadikannya pertumbuhan janin manusia dalam kandungan secara beransur-ansur adalah sebagai rasa belas kasih terhadap ibu. Karena sesungguhnya Allah mampu menciptakannya sekaligus.
jejak sumber : disini
Ahad, 15 April 2012
Hadith 40 – 1 Kepentingan Niat dalam ibadat
بسم الله الرحمن الرحيم
Syarah hadith ini dipetik dari buku Hadith 40 karangan Imam An-Nawawi. Tajuk hadith yang pertama (01) ini adalah, segala amal itu berdasarkan niat.
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Maksud hadith
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadith, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).
(Riwayat dua imam hadith, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).
Catatan hadith 40:01 - niat
1. Hadith ini merupakan salah satu dari hadith-hadith yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadith tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata: Hadith ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadith ini merupakan sepertiga Islam.
2.Hadith ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama: “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).
Pelajaran yang terdapat dalam Hadith
1. Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
2. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
3. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.
4. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
5. Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.
6. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
7. Hadith diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan
2. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
3. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.
4. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
5. Semua pebuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.
6. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
7. Hadith diatas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan
Langgan:
Catatan (Atom)
