Abu Hamid Ahmad ibnu Khadhruya al-Balkhi. Adalah seorang warga terhormat Kota Balkh. Istrinya adalah seorang wanita solikhah, putrid dari Gubernur Kota Balkh. Ahmad kerap dihubungkan dengan Hatim al-Asamm dan Abu Yazid al-Bisthami. Ia meninggal dunia di Nisyabur pada tahun 240 H / 864 M dalam usia 95 tahun. Ia memiliki seribu orang murid. Setiap muridnya mampu berjalan diatas permukaan air dan terbang di udara. Ahmad mengenakan pakaian serdadu. Fatimah, istrinya, termasuk salah seorang wali sufi. Ia adalah putri dari Pangeran Balkh. Setelah bertobat, ia mengirim utusan untuk menemui Ahmad. “Mintalah aku dari ayahku.” Ahmad tidak menanggapi, maka Fatimah pun mengirim utusan untuk kedua kalinya. “Ahmad, tadinya aku piker engkau lebih dari ini, jadilah pemandu jalan, jangan jadi penyamun.” Ahmad pun kemudian mengirim seorang utusan untuk menemui ayah Fatimah untuk meminangnya. Ayah Fatimah, demi mencari berkah Allah, menyerahkan Fatimah kepada Ahmad. Fatimah pun memberikan salam perpisahan kepada keduaniawian dan menemukan kediaman yang tenang dalam kesunyian dengan Ahmad. Hari-haripun berlalu. Suatu hari Ahmad berniat pergi mengunjungi Abu Yazid, Fatimah menyertainya. Saat mereka memasuki kediaman Abu Yazid, Fatimah melepaskan hijabnya dan berbincang-bincang dengan Abu Yazid. Ahmad terkejut melihat hal ini, hatinya diliputi oleh api cemburu. “Fatimah apa yang engkau lakukan bersama Abu Yazid,” pekiknya. “Engkau akrab dengan diri lahirku, sedangkan Abu Yazid akrab dengan diri batinku. Engkau membangkitkan hasratku, sedangkan ia membawaku kepada Allah,” jawab Fatimah. “Buktinya ia dapat kutinggalkan kapanpun engkau membutuhkan aku.” Abu Yazid bercengkrama dengan Fatimah, hingga suatu kesempatan matanya memandang tangan Fatimah dan melihat kedua tangan Fatimah itu di warnai dengan pacar. “Fatimah mengapa engkau memakai pacar?” Tanya Abu Yazid. “Abu Yazid sebelum ini engkau tidak pernah memandang tanganku dan melihat pacar yang aku pakai,” jawab Fatimah. “Sebelum ini aku merasa tentrem bersamamu. Namun kini setelah matamu memandang tanganku, terlarang bagiku untuk menemanimu.” :Aku telah memohon kepada Allah,” ujar Abu Yazid, “Agar Dia menjadikan wanita layaknya sebuah dinding dalam pandanganku. Dan begitulah Dia menampakkan wanita dalam pandanganku, seperti sebuah dinding.” Kemudian Ahmad dan Fatimah melanjutkan perjalanan ke Nisyabur, dimana mereka disambut dengan hangat, saat Yahya ibnu Mu’adz Radhi tiba di Nisyabur dalam perjalanannya menuju Balkh. Ahmad ingin membuat pesta untuk Yahya, ia membicarakan itu dengan Fatimah. “Apa yang kita butuhkan untuk pesta ini?” Tanya Ahmad. “Banyak lembu dan domba,” jawab Fatimah. “Juga segala pernik-pernik perhiasan, seperti lilin dan minyak mawar, selain kita juga butuh sejumlah keledai.” “Untuk apa daging keledai itu?” Tanya Ahmad. Fatimah menjelaskan, “Saat seorang yang mulya datang untuk makan, anjing-anjing yang ada disekitar juga harus mendapat bagian dari pestanya.” Begitulah jiwa kasatria yang dimiliki Fatimah. Sebagaimana dinyatakan oleh Abu Yazid, “Jika seseorang ingin melihat lelaki sejati bersembunyi dalam pakaian wanita, suruh ia melihat Fatimah.” Ahmad mengisahkan riwayat berikut ini: Untuk waktu yang lama, aku telah menekan jiwa badaniahku. Kemudian pada suatu hari, sekelompok besar orang bersiap untuk pergi berjihat. Di dalam diriku, timbul hasrat besar untuk mengikuti mereka. Jiwaku mengantarkanku akan sejumlah hadis yang berbicara mengenai imbalan di surga bagi mereka yang berjuang di jalan Allah. “Aku begitu takjub, tak biasa-biasanya jiwaku sangat berhasrat untuk patuh,” ujarku. “Mungkin ini karena aku selalu membuat jiwaku berpuasa. Jiwaku tidak dapat menahan lapar lebih lama lagi, dan ingin berbuka puasa.” “Aku akan ikut mereka berjihad, tapi aku tidak akan berbuka puasa dalam perjalanan.” “Aku setuju,” jawab jiwaku. Mungkin jiwaku berkata begitu karena aku selalu memerintahkannya untuk shalat malam. Ia ingin di perjalanan agar dapat tidur di malam hari dan beristirahat,” pikirku. Maka aku pun berkata, “Aku akan tetap membuatmu terjaga hingga fajar.” “Aku setuju,” jawab Jiwaku. Aku tambah takjub. Kemudian terlintas dipikiranku, mungkin jiwaku berkata demikian karena ia ingin berbaur dengan orang banyak, ia telah letih berada dalam kesunyian, dan berharap mendapat pelipur lara dalam rombongan banyak orang. Maka aku pun berkata, “Kemanapun aku membawamu, aku akan menaruhmu di tempat yang terpisah, dan aku tidak akan duduk berkumpul dengan orang-orang lain.” “Aku setuju,” jawab jiwaku. Aku pun terdiam, lalu memohon kepada Allah, Agar Dia menyingkapkan kepadaku segala tipu daya jiwaku atau membujat jiwaku mengaku. Akhirnya, jiwaku bicara, “Setiap hari engkau membunuhku seratus kali, dengan menantang hasrat-hasratku, dan tak ada seorang pun yang tahu. Di dalam perang, setidaknya aku dapat terbunuh sekali untuk selamanya, dan akan mendapatkan kebebasan, dan beritanya akan tersebar ke seantero dunia. Ahmad ibnu Khadhruya benar-benar hebat! Mereka membunuhnya, dan ia meraih mahkota syahid.” Kontan aku memekik, “Maha Mulia Allah, yang menciptakan sebuah jiwa dengan watak munafik ketika gidup, dan tetap munafik setelah mati. Jiwa seperti itu tidak akan pernah menjadi muslim sejati, baik didunia ini maupun di akherat kelak. Aku piker engkau ingin mematuhi Allah, ternyata tanpa kusadari, engkau tengah mencoba untuk memakai korset.” Sejak saat itu aku menggandakan usahaku dalam menaklukkan jiwaku. Ada seorang pencuri membobol rumah Ahmad, ia mencari kesana-kemari, namun tidak menemukan apa-apa. Saat ia hendak pergi meninggalkan rumah Ahmad, Ahmad memanggilnya, “Wahai anak muda, ambillah ember itu dan ciduklah air dari dalam sumur, berwuduklah, dan dirikanlah shalat. Jika aku mendapat sesuatu, aku akan memberikannya padamu, agar engkau tidak meninggalkan rumahku ini dengan tangan kosong.” Si pencuri itu melakukan apa yang diperintahkan Ahmad. Ketika hari telah terang, seorang lelaki terhormat datang dan memberikan uang seratur dinar kepada Ahmad. “Ambillah uang ini sebagai imbalan bagi malammu yang engkau lewatkan dengan shalat,” kata Ahmad kepada si pencuri. Si pencuri kontan gemetaran seluruh tubuhnya, ia larut dalam tangis. “Aku telah salah jalan,” pekiknya. “Baru semalam aku bekerja untuk Allah, dan Dia telah membalasku demikian besar.” Pencuri itu pun bertobat, kembali kepada Allah. Ia menolak uang dinar yang diberikan oleh Ahmad, dan kemudian menjadi salah seorang mujrid Ahmad. Pada suatu kesempatan, Ahmad pergi ke sebuah pondok sufi dengan mengenakan yang sangat buruk. Dalam cara sufi, Ahmad mengabdikan diri sepebuhnya untuk melakukan tugas-tugas spiritual. Namun para sufi lain di pondok itu diam-diam meragukan ketulusannya. “Tempatnya bukan disini,” kata mereka kepada Syekh mereka. Kemudian pada suatu hari Ahmad pergi ke sumur dan embernya jatuh ke dalam sumur itu, para sufi lain mencela dan memakinya. Ahmad pun menemui sang syekh. “Aku mohon, bacalah surah Al-Fatihah, agar ember dapat terangkat dari dalam sumur,” pinta Ahmad. “Permohonan macam apa ini?” tukas sang syekh terheran-heran. “Jika anda tidak berkenan membacanya,” kata Ahmad, “Maka izinkanlah aku untuk membacanya.” Sang syekh mengizinkan, dan Ahmad pun membaca surah Al-Fatihah. Ember itu tiba-tiba terangkat ke permukaan. Ketika sang syekh melihat hal itu ia melepaskan serbannya. “Anak muda siapa sebenarnya engkau? Lesungku hanya berisi sekam bila dibandingkan dengan bulir padimu,” Tanya sang syekh. Ahmad menjawab, beri tahu para sahabatmu, janganlah terlalu memandang rendah para musafir.” Suatu hari datang seorang lelaki datang menemui Ahmad dan berkata, “Aku sakit dan miskin, bimbinglah aku ke jalan yang dapat menghantarkanku keluar dari cobaan ini.” “Tulislah jenis-jenis pekerjaan yang ada masing-masing pada secarik kertas,” jawab Ahmad. “Taruh potongan-potongan kertas itu dalam sebuah kantung, dan berikan padaku.” Lelaki itu pun menuliskan semua jenis pekerjaan dan membawa semua potongan-potongan kertas itu kepada Ahmad. Ahmad memasukkan tangannya ke kantong itu dan mengambil secarik kertas. Di kertas itu tertulis pencuri. “Engkau harus menjadi pencuri,” kata Ahmad kepada lelaki itu. Lelaki itu terkejut bukan main, dan terheran-heran mendengar ucapan Ahmad. Kemudian ia bangkit dan pergi menemui sekawanan penyamun. “Aku memimpikan pekerjaan ini,” katanya kepada mereka, “Bagaimana aku melakukannya?” “Hanya ada satu aturan dalam pekerjaan ini,” kata mereka kepadanya. “Engkau harus melakukan apapun yang kami perintahkan. “Aku akan melakukan apapun yang kalian perintahkan,” katanya meyakinkan mereka. Lelaki itu tinggal bersama para penyamun selama beberapa hari. Lalu suatu hari, sebuah kafilah melintas. Para penyamun itu mencegatnya. Mereka menyerahkan salah seorang anggota kafilah itu, seorang saudagar yang kaya raya, kepada anggota baru. “Gorok lehernya,” perintah mereka. Lelaki itu ragu, ia berkata dalam hati, “Raja penyamun ini telah membunuh banyak orang , lebih baik aku membunuhnya daripada aku membunuh saudagar itu.” “Jika engkau menginginkan pekerjaan ini, engkau harus melakukan semua yang kami perintahkan,” tukas sang pemimpin penyamun, “Kalau tidak, engkau harus pergi dan mencari pekerjaan lain.” Lelaki itu berkata, “Ya, aku memang harus menjalankan perintah, tapi perintah Allah, bukan perintah kalian!” Kemudian ia menghunus pedangnya, membiarkan saudagar itu pergi, dan menebas kepala sang raja penyamun. Melihat jedian itu, para penyamun yang lain melarikan diri. Barang-baranaga milik kafilah itu tetap utuh, dan jiwa si saudagar tadi selamat. Ia memberikan banyak emas dan perak kepada lelaki itu agar bisa hidup mandiri. Suatu hari seorang Darwis bertamu kerumah Ahmad dan diterima dengan hangat. Ahmad menyalakan tujuh puluh buah lilin. “Ini tidak menyenangkanku,” kata si darwis, “sibuk dengan hal-hal remeh tidak ada kaitannya dengan sufisme.” “Kalau begitu pergilah,” kata Ahmad, “Dan padamkan setiap lilin yang aku padamkan bukan karena Allah.” Sepanjang malam si darwis menyiramkan air dan menaburkan tanah, namun tidak satu lilin pun yang berhasil ia padamkan. “Mengapa engkau begitu terkejut?” kata Ahmad pada darwis itu keesokan harinya. “Ikutlah denganku, dan engkau akan melihat hal-hal yang memang patut membuat takjub.” Mereka pun pergi dan di depan pintu sebuah gereja. Saat para pendeta Kristen melihat Ahmad bersama temannya, kepala gereja mengundang mereka untuk masuk. Ia menyajikan makanan di meja dan mempersilahkan Ahmad untuk makan. “Para sahabat tidak makan bersama para musuh,” ujar Ahmad dengan hormat. “Tawarkan Islam pada kami,” kata sang kepala Gereja. Maka Ahmad menawarkan Islam kepada mereka. Tujuh puluh para pendeta akhirnya memeluk Islam. Malam itu Ahmad bermimpi, dalam mimpinya itu, ia mendengar sebuah suara: Ahmad engkau menyalakan tujuh puluh lilin untukku, kini aku telah menyalakan untukmu tujuh puluh hati dengan cahaya Iman. |
Memaparkan catatan dengan label hati. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label hati. Papar semua catatan
Selasa, 1 Mei 2012
70 Hati dengan cahaya keimanan
بسم الله الرحمن الرحيم
Isnin, 23 April 2012
Bahaya Lisan
بسم الله الرحمن الرحيم
Ketahuilah bahawa bahaya lisan (lidah) itu besar sekali, dan manusia tidak akan selamat dari bahya ini, melainkan dengan bertutur kata yang baik saja.
Nabi s.a.w. telah bersabda:
“Tidak akan lurus keimanan seorang hamba, sehingga lurus pula hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus pula lidahnya. Dan seorang hamba tidak akan memasuki syurga, selagi tetangganya belum aman dari kejahatannya.”
Berkata Mu’az bin Jabal kepada Rasulullah s.a.w.: Apakah kita akan dihisab juga atas apa yang kita katakan, wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: Wahai Mu’az! Tidakkah engkau ketahui bahawa manusia itu akan ditelengkupkan menerusi hidung-hidung mereka disebabkan hasil tuaian lidah-lidah mereka.
Ibu Mas’ud (Abdullah bin Mas’ud) r.a. pernah berkata: Wahai lidah! Sebutkanlah yang baik-baik, nescaya engkau akan dapat faedah. Dan berdiamlah dari berkata buruk, nescaya engkau terselamat sebelum engkau menyesal.
Sabda Rasulullah s.a.w.:
“Barangsiapa yang memelihara lidahnya, Allah akan menutup kecelaannya. Barangsiapa yang menahan kemarahannya, Allah akan melindunginya dari siksaNya. Dan barangsiapa yang menyatakan keuzurannya kepada Allah, Allah akan menerima uzurnya”.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka berkatalah yang baik ataupun berdiam saja”
Sabdanya lagi:
“Jagalah lidahmu kecuali bila berkata yang baik. Dengan berlaku demikian engkau akan mengalahkan syaitan.”
Khamis, 9 Februari 2012
3 Perkara membina hati yang benar kepada Allah SWT
بسم الله الرحمن الرحيم

1- Benar kepada Allah SWT :
* Lidah tidak bertutur kecuali pada perkara yang benar.
* Dalam pergaulan atau bermuamalah tidak menambah-nambah atau tidak berpura-pura.
* Dalam perbuatan hendaklah Ikhlas serta memenuhi ciri yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
2- Benar kepada diri sendiri :
* Apa yang dilakukan adalah demi kepentingan mennjaga kesucian hati.
* Menasihati hatinya agar tidak cenderung kepada maksiat.
3- Benar kepada manusia:
* Apa yang dilakukan untuk Allah SWT adalah sama apa yang dilakukan untuk manusia semua adalah Ikhlas kerana Allah SWT ( Tidak bersifat munafiq terhadap Allah SWT dan manusia ).
وللصدق أنـــواع، هي:
1) الصدق مع الله تعالى، ويكون .. صدقًا في الأقوال؛ فلا ينطق لسانك إلا صدقًا .. وصدقًا في الأحوال؛ فلا تراوغ ولا تتلوَّن .. وصدقًا في الأعمال؛ بأن تكون مُخلصًا لله تعالى مُتبعًا لهدي النبي
في أعمالك.
2) الصدق مع النفس .. بأن يكون بينه وبين نفسه مصالحة فيما
يعتقده وما يفعله .. وأن ينصح نفسه؛ حتى لا تميـل مع الشهوات وتركن إليها .. فيُحاسب نفسه قائلاً:
يـــا نفسُ، أخلصي تتخلصي … واصدقي تصلي إلى شواطيء الطمأنينة وتبتعدي عن الريب والشكوك،،
3) الصدق مع النــاس .. فلا يظهر أمام الناس بوجه مُختلف عن الوجه الذي بينه وبين الله تعالى.
http://forum.stop55.com/357514.html
syukran
1- Benar kepada Allah SWT :
* Lidah tidak bertutur kecuali pada perkara yang benar.
* Dalam pergaulan atau bermuamalah tidak menambah-nambah atau tidak berpura-pura.
* Dalam perbuatan hendaklah Ikhlas serta memenuhi ciri yang dibawa oleh Rasulullah SAW.
2- Benar kepada diri sendiri :
* Apa yang dilakukan adalah demi kepentingan mennjaga kesucian hati.
* Menasihati hatinya agar tidak cenderung kepada maksiat.
3- Benar kepada manusia:
* Apa yang dilakukan untuk Allah SWT adalah sama apa yang dilakukan untuk manusia semua adalah Ikhlas kerana Allah SWT ( Tidak bersifat munafiq terhadap Allah SWT dan manusia ).
وللصدق أنـــواع، هي:
1) الصدق مع الله تعالى، ويكون .. صدقًا في الأقوال؛ فلا ينطق لسانك إلا صدقًا .. وصدقًا في الأحوال؛ فلا تراوغ ولا تتلوَّن .. وصدقًا في الأعمال؛ بأن تكون مُخلصًا لله تعالى مُتبعًا لهدي النبي
2) الصدق مع النفس .. بأن يكون بينه وبين نفسه مصالحة فيما
يعتقده وما يفعله .. وأن ينصح نفسه؛ حتى لا تميـل مع الشهوات وتركن إليها .. فيُحاسب نفسه قائلاً:
يـــا نفسُ، أخلصي تتخلصي … واصدقي تصلي إلى شواطيء الطمأنينة وتبتعدي عن الريب والشكوك،،
3) الصدق مع النــاس .. فلا يظهر أمام الناس بوجه مُختلف عن الوجه الذي بينه وبين الله تعالى.
http://forum.stop55.com/357514.html
syukran
Khamis, 6 Oktober 2011
5 Perkara yang wajib kita renung dengan mata hati yang murni
بسم الله الرحمن الرحيم

1- Bertafakkur tentang ayat-ayat Allah SWT di dalam Al-Quran, hasilnya adalah mencapai tauhid yang yakin kepada Allah SWT.
2- Bertafakkur tentang nikmat-nikmat yang Allah SWT telah kurniakan, hasilnya adalah rasa Cinta dan bersyukur kepada Allah SWT.
3- Bertafakkur tentang Janji-janji Allah SWT yang Maha Benar, hasilnya adalah akan lahir rasa Cinta kepada kebahagiaan di Akhirat.
4- Bertafakkur tentang ancaman dan azab Allah SWT yang amat pedih, hasilnya akan lahir tindakan berwaspada dan menjauhi perkara maksiat serta akan mengagungkan kedudukan Allah SWT di dalam hatinya.
5- Bertafakkur tentang sejauh mana kita telah mentaati perintah dan arahan Allah SWT serta segala kebaikan yang Allah SWT telah berikan kepada diri kita, hasilnya akan lahir perasaan Takut kepada kekuasaan Allah SWT di dalam hati.
Kitab Mutiara Kebijaksanaan Dalam Islam. M/S : 146.
Rujukan Gambar:
http://www.awda-dawa.com/Pages/Subjects/Default.aspx?id=5418
sumber
1- Bertafakkur tentang ayat-ayat Allah SWT di dalam Al-Quran, hasilnya adalah mencapai tauhid yang yakin kepada Allah SWT.
2- Bertafakkur tentang nikmat-nikmat yang Allah SWT telah kurniakan, hasilnya adalah rasa Cinta dan bersyukur kepada Allah SWT.
3- Bertafakkur tentang Janji-janji Allah SWT yang Maha Benar, hasilnya adalah akan lahir rasa Cinta kepada kebahagiaan di Akhirat.
4- Bertafakkur tentang ancaman dan azab Allah SWT yang amat pedih, hasilnya akan lahir tindakan berwaspada dan menjauhi perkara maksiat serta akan mengagungkan kedudukan Allah SWT di dalam hatinya.
5- Bertafakkur tentang sejauh mana kita telah mentaati perintah dan arahan Allah SWT serta segala kebaikan yang Allah SWT telah berikan kepada diri kita, hasilnya akan lahir perasaan Takut kepada kekuasaan Allah SWT di dalam hati.
Kitab Mutiara Kebijaksanaan Dalam Islam. M/S : 146.
Rujukan Gambar:
http://www.awda-dawa.com/Pages/Subjects/Default.aspx?id=5418
sumber
Isnin, 18 Julai 2011
Mengapa Hati Terhijab ?
بسم الله الرحمن الرحيم

Hati, mempunyai kebolehan memandang dan mengenal sesuatu, merasa senang susah, lahir atau ghaib khususnya Allah SWT. Inilah kelebihan manusia daripada haiwan-haiwan iaitu mempunyai hati yang dapat mengenal Allah dengan sebenarnya hingga ia menjadi hamba Allah yang benar-benar takutkan Allah. Ini difirmankan Allah:
Sabda Rasulullah SAW
Langkah pertama yang wajib diambil untuk mengubat penyakit hati kita ialah mengubat hati yang buta itu. Bila hati tidak buta lagi penyakit-penyakit hati lainnya akan hilang dengan sendirinya. Kalau mata buta, kita pergi ke pakar mata. Mungkin dicuci, dibedah dan sebagainya. Kalau hati yang buta, kita kenalah membuat rawatan yang sesuai pula untuknya.
Untuk itu mari kita lihat dulu apakah sebab-sebab hati terhijab? Antaranya adalah memakan makanan haram dan makanan syubahat, sama ada sedar atau tidak.
Bersabda Rasulullah SAW bermaksud:
kotor (haram dan syubahat) sama ada benda itu haram atau duit yang digunakan untuk membelinya haram maka sel dan zat-zat besi, zat-zat yang membina hati itu kotor, busuk dan gelap.
Hati seperti wadah yang terdedah. Hati yang kotor tidak akan menerima taufik Allah sebab Allah tidak akan beri taufik dan hidayah kerana taufik itu sangat tinggi harganya. Umpamanya, kita tidak akan memasukkan makanan ke dalam pinggan yang kotor. Bila hati tidak boleh nampak kebenaran, tidak terasa kebesaran, kehebatan, kasih sayang, didikan dari Allah, tidak terasa anugerah Allah, penjagaan Allah, pengawasan Allah, pembelaan Allah (intisari Islam ialah rasa zauk. Kalau hati tidak merasa, maka kita tidak dapat hidayah dan taufik lagi) maka jadilah kita orang yang sesat dan sentiasa terlibat melakukan maksiat dan mungkar.
Bersabda Rasulullah SAW:
Atas dasar inilah Sayidina Abu Bakar Al Siddiq mengorek balik hingga muntah-muntah makanan yang telah ditelannya setelah dia tahu yang makanan itu sumbernya adalah syubahat. Amirul Mukminin itu cukup takut kalau-kalau makanan itu akan membutakan hatinya. Setelah mengorek makanan itu kerana bimbang kalau-kalau ada saki-baki makanan yang tinggal dalam perutnya, maka beliau pun berdoa: "Ya Allah, jangan Engkau bertindak atasku akan apa yang telah jadi darah dagingku. "
Begitu Sayidina Abu Bakar menjaga hatinya. Sebab itu hatinya jadi terang-benderang. Jadi, tidak hairanlah beliau cukup kuat keyakinan dengan Allah. Rasulullah SAW sendiri memuji beliau dengan sabda baginda:
alam benda ini sudah tidak bererti apa-apa. Bandingannya begini:
Hati, mempunyai kebolehan memandang dan mengenal sesuatu, merasa senang susah, lahir atau ghaib khususnya Allah SWT. Inilah kelebihan manusia daripada haiwan-haiwan iaitu mempunyai hati yang dapat mengenal Allah dengan sebenarnya hingga ia menjadi hamba Allah yang benar-benar takutkan Allah. Ini difirmankan Allah:
Terjemahannya: Apabila disebut nama Allah, gementarlah hati-hati mereka.Hati yang terang-benderang begini dimiliki oleh para 'ariffin, muqarrobin dan solehin. Hati mereka nampak dan kenal betul sifat-sifat keagungan Allah. Sebab itu mereka dapat benar-benar menghambakan diri kepada Allah SWT. Sebaliknya ada juga manusia yang hatinya gelap (buta) tidak nampak dan tidak kenal Allah. Ini juga ada difirmankan oleh Allah SWT:
(Al AnfaaI: 2)
Terjemahannya: Adakah orang yang mengetahui bahawasanya apa yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu benar sama seperrti orang yang buta (mengetahui) ? Hanyalah orang-orang yang berakal sahaja yang dapat mengambil pelajaran.Firman Allah lagi:
(Ar Ra'd: 19)
Terjemahannya: Mereka itulah orang-orang yang hatinya, pendengarannya dan penglihatannya telah dikunci oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang lalui.Dari Umar bin Al Khattab, Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
(An Nahl: 108)
Cap penutup hati tergantung di kaki arasy maka bila larangan Allah dilanggar dan yang diharamkan-Nya dianggap halal, Allah mengirim cap penutup hati ini lalu hati para pelanggar dikenakan cap ini. Bila hati sudah buta, sudah dikunci mati oleh Allah SWT, tidak dapat lagilah ia mengenal Allah.Begitulah hati orang-orang kafir dan munaflk yang menyebabkan mereka menolak kebenaran. Walaupun kita umat Islam, hati kita juga masih buta. Buktinya ialah kita masih tergamak membuat dosa (kecil atau besar). Orang yang masih buat dosa ialah orang yang tidak takutkan Allah. Orang yang tidak takutkan Allah ialah orang yang tidak kenal siapa Allah. Tidak kenal Allah ialah lantaran kerana hati telah buta.
Sabda Rasulullah SAW
Terjemahannya: Sesungguhnya seorang mukmin apabila melakukan dosa terjadilah satu bintik hitam di hatinya, maka jika dia bertaubat dun berusaha membuangnya selamatlah hatinya, dan kalau bertambah dosanya bertambahlah terkunci hatinya.Sabda baginda lagi yang maksudnya:
Orang yang membuat satu dosa hilanglah sebahagian akalnya untuk tidak kembali lagi selama-lamanya.Kalau mata kita buta, kita tidak dapat melihat, tidak mengenal malah tidak dapat berjalan lagi. Begitulah kalau hati buta, kita tidak dapat mengenal Allah dan tidak dapat menempuh jalan syariat lagi. Kita tidak takut, tidak redha, tidak tawakal, tidak yakin, tidak berharap kepada Allah, tidak cinta, tidak yakin dengan janji-Nya iaitu Syurga, Neraka, Hari Hisab, seksa kubur, dan lain-lain lagi. Dan bila amalan itu tidak ada di hati kita maka datanglah penyakit hati. Firman Allah:
Terjemahannya: Dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya dan bagi mereka seksa yang pedih disebabkan mereka berdusta.Mereka akan terseksa di dunia dan di Akhirat. Di dunia mereka kecewa, putus asa, keluh kesah, tidak tenang. Di akhirat lagi pedih. Antara penyakit hati yang Allah maksudkan itu ialah hasad dengki, dendam, buruk sangka, tamak, gila dunia, bakhil, pemarah, penakut, riak, ujub dan sombong.
(Al Baqarah: 10)
Langkah pertama yang wajib diambil untuk mengubat penyakit hati kita ialah mengubat hati yang buta itu. Bila hati tidak buta lagi penyakit-penyakit hati lainnya akan hilang dengan sendirinya. Kalau mata buta, kita pergi ke pakar mata. Mungkin dicuci, dibedah dan sebagainya. Kalau hati yang buta, kita kenalah membuat rawatan yang sesuai pula untuknya.
Untuk itu mari kita lihat dulu apakah sebab-sebab hati terhijab? Antaranya adalah memakan makanan haram dan makanan syubahat, sama ada sedar atau tidak.
Bersabda Rasulullah SAW bermaksud:
Hati itu ditempa dengan apa yang dimakan.Hati kita ialah seketul darah yang mengandungi sel-sel darah merah dan zat-zat besi. Sel dan zat-zat itu datangnya daripada makanan yang kita makan. Kalau makanan kita bersih (halal mengikut syariat Islam) maka sel dan zat itu juga bersih maka hati kita juga turut bersih. Sebaliknya kalau makanan yang kita makan itu
kotor (haram dan syubahat) sama ada benda itu haram atau duit yang digunakan untuk membelinya haram maka sel dan zat-zat besi, zat-zat yang membina hati itu kotor, busuk dan gelap.
Hati seperti wadah yang terdedah. Hati yang kotor tidak akan menerima taufik Allah sebab Allah tidak akan beri taufik dan hidayah kerana taufik itu sangat tinggi harganya. Umpamanya, kita tidak akan memasukkan makanan ke dalam pinggan yang kotor. Bila hati tidak boleh nampak kebenaran, tidak terasa kebesaran, kehebatan, kasih sayang, didikan dari Allah, tidak terasa anugerah Allah, penjagaan Allah, pengawasan Allah, pembelaan Allah (intisari Islam ialah rasa zauk. Kalau hati tidak merasa, maka kita tidak dapat hidayah dan taufik lagi) maka jadilah kita orang yang sesat dan sentiasa terlibat melakukan maksiat dan mungkar.
Bersabda Rasulullah SAW:
Terjemahannya: Dalam diri anak Adam itu ada seketul daging. Bila baik daging itu baiklah seluruh anggota dan seluruh jasad. Bila jahat dan busuk daging itu jahatlah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.Firman Allah:
(Riwayat: Al Bukhuri & Muslim)
Terjemahannya: Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman dengan-Nya.Periritah memakan makanan yang halal adalah wajib. Kalau kita makan makanan yang haram dalam keadaan kita sedar ianya haram maka kita akan berdosa di samping hati kita turut gelap. Tetapi kalau makanan yang haram dan syubahat itu kita makan, tanpa diketahui ianya haram dan syubahat maka tidak berdosa tetapi hati kita yang terbina dari makanan itu tetap akan gelap.
(Al Maidah: 88)
Atas dasar inilah Sayidina Abu Bakar Al Siddiq mengorek balik hingga muntah-muntah makanan yang telah ditelannya setelah dia tahu yang makanan itu sumbernya adalah syubahat. Amirul Mukminin itu cukup takut kalau-kalau makanan itu akan membutakan hatinya. Setelah mengorek makanan itu kerana bimbang kalau-kalau ada saki-baki makanan yang tinggal dalam perutnya, maka beliau pun berdoa: "Ya Allah, jangan Engkau bertindak atasku akan apa yang telah jadi darah dagingku. "
Begitu Sayidina Abu Bakar menjaga hatinya. Sebab itu hatinya jadi terang-benderang. Jadi, tidak hairanlah beliau cukup kuat keyakinan dengan Allah. Rasulullah SAW sendiri memuji beliau dengan sabda baginda:
Terjemahannya: Kalau ditimbangkan iman Abu Bakar dengan iman seluruh manusia kecuali Nabi dan Rasul nescaya dia masih lebihImam Nawawi semasa hidupnya tidak makan buah-buahan di Damsyik kerana merasakan syubahat. Dia menjaga hatinya. Hati yang terang-benderang akan mempunyai basirah (pandangan batin) yang tajam yang dapat menembus alam ghaib dan alam kerohanian. Bila alam ghaib yang hebat itu ternampak oleh kita maka
alam benda ini sudah tidak bererti apa-apa. Bandingannya begini:
Khamis, 14 Julai 2011
7 Ciri-ciri hati mukmin yang sihat
بسم الله الرحمن الرحيم
Pertama:
Jika ia tertinggal wiridnya dari Al-Quran atau zikrullah, atau suatu peribadatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi melebihi sakit orang yang tamak dan kikir ketika kehilangan barang kesayangannya.
Kedua :
Ia sentiasa merindui untuk mengabdikan diri di jalan Allah seperti rindunya seseorang kepada orang yang amat disayangi.
Ketiga :
Tujuan hidupnya hanya satu, iaitu taat kepada Allah SWT
Keempat :
Bila ia sedang melakukan solat, maka hilanglah semua kegundahannya pada kenikmatan dunia yang sementara. Di dalam solat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.
Kelima:
Sangat menghargai waktu dan tidak mensia-siakannya, melebihi rasa kekhuatiran orang bakhil menjaga hartanya.
Keenam:
Tidak pernah terputus dan malas dalam mengingati Allah.
Ketujuh:
Lebih mengutamakan pada pencapaian kualiti atas suatu amalan perbuatan daripada kuantitinya. Lebih cenderung kepada keikhlasan beribadat.
Empat jenis racun hati
Pertama: Berlebihan dalam berbicara
Kedua:Berlebihan dalam memandang
Ketiga: Berlebihan dalam makan
Keempat: Berlebihan dalam bergaul
Wallahu'alam.
Rujukan :
http://www.muslimdiary.com/ articles.php?article_id=1231
Jika ia tertinggal wiridnya dari Al-Quran atau zikrullah, atau suatu peribadatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi melebihi sakit orang yang tamak dan kikir ketika kehilangan barang kesayangannya.
Kedua :
Ia sentiasa merindui untuk mengabdikan diri di jalan Allah seperti rindunya seseorang kepada orang yang amat disayangi.
Ketiga :
Tujuan hidupnya hanya satu, iaitu taat kepada Allah SWT
Keempat :
Bila ia sedang melakukan solat, maka hilanglah semua kegundahannya pada kenikmatan dunia yang sementara. Di dalam solat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.
Kelima:
Sangat menghargai waktu dan tidak mensia-siakannya, melebihi rasa kekhuatiran orang bakhil menjaga hartanya.
Keenam:
Tidak pernah terputus dan malas dalam mengingati Allah.
Ketujuh:
Lebih mengutamakan pada pencapaian kualiti atas suatu amalan perbuatan daripada kuantitinya. Lebih cenderung kepada keikhlasan beribadat.
Empat jenis racun hati
Pertama: Berlebihan dalam berbicara
Kedua:Berlebihan dalam memandang
Ketiga: Berlebihan dalam makan
Keempat: Berlebihan dalam bergaul
Wallahu'alam.
Rujukan :
http://www.muslimdiary.com/
Isnin, 26 April 2010
Hati Hitam
بسم الله الرحمن الرحيم
Punca hati menjadi hitam ( Yusuf Qardawi) :
1. Ketandusan Ilmu
2. Makanan dan minuman
3. Banyak membuang masa
4. Berbuat dosa tapi tidak bertaubat.
Ayuh kita melengkapkan diri dengan pelbagai ilmu dengan menghadiri majlis-majlis ilmu secara berterusan, menjaga makanan dan minuman kita supaya sumbernya halal, tidak membuang masa atau membiarkan masa berlalu dengan sia-sia, serta memperbanyakkan taubat setiap hari.
...catatan maghrib 25.4.10
Punca hati menjadi hitam ( Yusuf Qardawi) :
1. Ketandusan Ilmu
2. Makanan dan minuman
3. Banyak membuang masa
4. Berbuat dosa tapi tidak bertaubat.
Ayuh kita melengkapkan diri dengan pelbagai ilmu dengan menghadiri majlis-majlis ilmu secara berterusan, menjaga makanan dan minuman kita supaya sumbernya halal, tidak membuang masa atau membiarkan masa berlalu dengan sia-sia, serta memperbanyakkan taubat setiap hari.
...catatan maghrib 25.4.10
Langgan:
Catatan (Atom)